hingga kau datang - by kak dwitasari
Kurang lebih tiga bulan lebih sehari. Begitu singkat perkenalan kita,
tapi ternyata semua telah melekat, termasuk cinta? Kamu tak percaya?
Tentu saja. Kamu selalu tak percaya pada perasaanku. Kamu lebih
memercayai persepsimu sendiri. Kamu menjunjung tinggi pengetahuanmu.
Padahal, kalau boleh jujur, aku tak pernah berbohong jika berkata rindu
yang bukan semu itu.
Berselang beberapa hari setelah perpisahan kita. Semua begitu
berbeda. Entah mengapa meskipun aku belum benar-benar mengenalmu, sudah
lahir saja rindu yang sulit kuatasi. Aku mencari-cari kamu dengan
menggunakan apapun. Aku mengharapkan beritamu mampir walaupun sekadar
cerita atau mitos semata. Kudengar, kamu sakit, ya? Cepat sembuh, ya.
Maaf jika aku tak berperan aktif untuk menyembuhkan sakitmu, karena kamu
telah memutuskan kebersamaan kita dan tak lagi ingin melihat aku dalam
tatapan matamu. Aku bertanya-tanya, apa salahku?
Untuk Cahaya Penunjukku, aku kebingungan melawan resah dan kangen.
Aku berusaha tak memikirkan kamu dan kenangan-kenangan kita dulu, tapi
semakin kulawan; semakin kauhadir dan melekat. Perpisahan harusnya tak
terlalu menghasilkan sakit karena perkenalan kita belum terjalin begitu
lama. Aku hanya menyesal, mengapa semua yang kupikir akan berakhir
bahagia malah berakhir secepat itu? Satu helaan napasku memburu, kucuri
kamu dalam otakku. Kamu tetaplah bayang-bayang, menghamburkan harapan,
kemudian menghempaskan.
Aku melirik ke belakang, melihat dan mengingat apa saja yang pernah
kita lakukan. Aku ingat ketika kamu memerhatikanku dengan baik dan
peduli. Aku merekam segala rasa cemasmu ketika aku bercerita tentang
pria lain. Aku mengenang rangkulan dan gandengan tanganmu yang kurasakan
pertama kali. Rasanya, aku tak cukup kuat untuk mengembalikan segalanya
kembali seperti awal perkenalan kita.
Aku menunggu saat kita bisa bertemu lagi, saling menumbuhkan rasa
percaya juga cinta. Aku menunggu kamu datang, membawa pelukan juga rindu
yang kaupendam. Mungkinkah kaupunya rindu sedalam dan seluas yang
kusimpan? Mungkinkah kaupunya cinta dan sayang sekuat dan seindah yang
kupunya? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kamu begitu sulit kutebak,
tapi aku mencintai segala teka-tekimu. Kamu hadir di saat yang tepat,
saat aku membutuhkan perkenalan tanpa keribetan, saat aku menginginkan
pria humoris di sampingku. Aku menemukan sosok pria idaman dalam dirimu,
tapi sepertinya aku bukanlah sosok yang kauinginkan. Aku terlalu buruk
untukmu. Aku tak ingin wajah tampanmu bersanding dengan wanita serendah
aku. Kamu terlalu sempurna untuk kugapai dan aku hanyalah si buruk rupa
yang merindukan takdir indah.
Sayang, aku menunggu kamu pulang. Kepulanganmu adalah kebahagiaan
bagiku. Aku menunggu kamu berbalik arah dan kembali berjalan ke arahku.
Aku mulai mencintaimu dan kurasa kamu juga begitu. Kamu selalu berkata
cinta, mengucap rindu, dan tersenyum ke arahku dengan wajah manis.
Cukupkah segala alasan itu menjadi dasar penilaiku, bahwa kaujuga
mencintaiku? Memang terlalu tergesa-gesa menyebutnya cinta, tapi izinkan
aku bilang bahwa cinta pun bisa datang bahkan tanpa aku meminta.
Ketika berkenalan denganmu, aku tak minta banyak hal selain
pertemanan. Tapi, kaumembuka mataku dan mengecup manis anganku, hingga
aku merasa nyaman jika berada di dekatmu. Jika perasaan itu makin
tumbuh, salahkah aku? Maaf, jika aku terlalu berharap banyak. Maaf, jika
aku tak bersikap sadar diri ataupun memilih pergi.
Aku menunggumu sampai datang. Pulanglah, Sayang. Jangan pergi lagi. Aku menunggumu sampai waktu tak izinkan kita bersatu.
No comments:
Post a Comment